Ir. Soekarno
![]()
Nama: Ir. Soekarno
Nama Panggilan: Bung Karno
Nama Kecil: Kusno.
Lahir: Blitar, Jatim, 6 Juni 1901
Meninggal: Jakarta, 21 Juni 1970
Makam: Blitar, Jawa Timur
Gelar (Pahlawan): Proklamator
Jabatan: Presiden RI Pertama (1945-1966)
Isteri dan Anak: Tiga isteri delapan anak
Isteri Fatmawati, anak: Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati dan Guruh
Isteri Hartini, anak: Taufan dan Bayu
Isteri Ratna Sari Dewi, wanita turunan Jepang bernama asli Naoko Nemoto, anak: Kartika.
Ayah: Raden Soekemi Sosrodihardjo
Ibu: Ida Ayu Nyoman Rai
Pendidikan:
HIS di Surabaya (indekos di rumah Oemar Said Tokroaminoto, politisi kawakan pendiri Syarikat Islam)
HBS (Hoogere Burger School) lulus tahun 1920
THS (Technische Hoogeschool atau sekolah Tekhnik Tinggi yang sekarang menjadi ITB) di Bandung lulus 25 Mei 1926
Ajaran: Marhaenisme
Kegiatan Politik: Mendirikan PNI (Partai Nasional Indonesia) pada 4 Juli 1927
Dipenjarakan di Sukamiskin, Bandung pada 29 Desember 1929
Bergabung memimpin Partindo (1931)
Dibuang ke Ende, Flores tahun 1933 dan Empat tahun kemudian dipindahkan ke Bengkulu.
Merumuskan Pancasila 1 Juni 1945
Bersama Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945
H.M. Soeharto
Nama: H. Muhammad Soeharto
Lahir: Kemusuk, Argomulyo, Godean, 1 Juni 1921
Meningal : 27 Januari 2008
Agama: Islam
Jabatan Terakhir: Presiden Republik Indonesia (1966-1998)
Pangkat: Jenderal Besar (Bintang Lima)
Isteri: Ibu Tien Soeharto ( Siti Hartinah)
Anak:
Siti Hardiyanti Hastuti (Mbak Tutut)
Sigit Harjojudanto
Bambang Trihatmodjo
Siti Hediati
Hutomo Mandala Putra (Tommy)
Siti Hutami Endang Adiningsih
Ayah: Kertosudiro
Ibu: Sukirah
B.J. Habibie
Nama: Prof. Dr.Ing. Dr. Sc.h.c. Bacharuddin Jusuf Habibie
Lahir: Pare-Pare, 25 Juni 1936
Agama: Islam
Jabatan : Presiden RI Ketiga (1998-1999)
Pendiri dan Ketua Dewan Pembina The Habibie Center
Istri: dr. Hasri Ainun Habibie (Menikah 12 Mei 1962)
Anak: Ilham Akbar dan Thareq Kemal
Cucu: Empat orang
Ayah: Alwi Abdul Jalil Habibie
Ibu: R.A. Tuti Marini Puspowardoyo
Jumlah Saudara: Anak Keempat dari Delapan Bersaudara
Pendidikan :
1. ITB Bandung, tahun 1954
2. Rheinisch Westfalische Technische Hochscule (RWTH), Aachen, Jerman, dengan gelar Diplom-Ingenieur, predikat Cum laude pada Fakultas Mekanikal Engineering, Departemen Desain dan Konstruksi Pesawat Terbang (1955-1960).
3. Rheinisch Westfalische Technische Hochscule (RWTH), Aachen, Jerman, dengan gelar doktor konstruksi pesawat terbang, predikat Summa Cum laude, pada Fakultas Mekanikal Engineering, Departemen Desain dan Konstruksi Pesawat Terbang (1960-1965).
4. Menyampaikan pidato pengukuhan gelar profesor tentang konstruksi pesawat terbang di ITB Bandung, pada tahun 1977.
Pekerjaan :
1. Kepala Riset dan Pengembangan Analisis Struktur pada perusahaan Hamburger Flugzeugbau Gmbh, Hamburg, Jerman antara tahun 1965-1969.
2. Kepala Divisi Metode dan Teknologi pada Pesawat Komersial dan Angkut Militer MBB Gmbh, di Hamburg dan Munchen antara 1969-19973
3. Wakil Presiden dan Direktur Teknologi pada MBB Gmbh, Hamburg dan Munchen tahun 1973-1978
4. Penasehat Senior Teknologi pada Dewan Direksi MBB tahun 1978.
5. Pulang ke Indonesia dan memimpin Divisi Advanced Technology Pertamina, yang merupakan cikal bakal BPPT, tahun 1974-1978.
6. Penasehat Pemerintah Indonesia di Bidang Pengembangan Teknologi dan Pesawat Terbang, bertanggungjawab langsung kepada Presiden Republik Indonesia Soeharto pada tahun 1974-1978.
7. Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) sekaligus Ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) tahun 1978-1998.
8. Wakil Presiden R.I. pada 11 Maret 1998-21 Mei 1998.
9. Presiden RI 21 Mei 1998-20 Oktober 1999.
Organisasi:
Pendiri dan Ketua Umum ICMI
Penghargaan:
Theodore van Karman Award
Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
Nama: Abdurrahman Wahid
Lahir : Denanyar, Jombang, Jawa Timur, 4 Agustus 1940.
Orang Tua: Wahid Hasyim (ayah), Solechah (ibu).
Istri : Sinta Nuriyah
Anak-anak : Alisa Qotrunada Zannuba Arifah Anisa Hayatunufus Inayah Wulandari
Pendidikan :
• Pesantren Tambak Beras, Jombang (1959-1963)
• Departemen Studi Islam dan Arab Tingkat Tinggi, Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir (1964-1966)
• Fakultas Surat-surat Universitas Bagdad (1966-1970)
Karir:
• Pengajar Pesantren Pengajar dan Dekan Universitas Hasyim Ashari Fakultas Ushuludin (sebuah cabang teologi menyangkut hukum dan filosofi)
• Ketua Balai Seni Jakarta (1983-1985)
• Penemu Pesantren Ciganjur (1984-sekarang)
• Ketua Umum Nahdatul Ulama (1984-1999)
• Ketua Forum Demokrasi (1990)
• Ketua Konferensi Agama dan Perdamaian Sedunia (1994)
• Anggota MPR (1999)
• Presiden Republik Indonesia (20 Oktober 1999-24 Juli 2001)
Penghargaan
• Penghargaan Magsaysay dari Pemerintah Filipina atas usahanya mengembangkan hubungan antar-agama di Indonesia (1993)
• Penghargaan Dakwah Islam dari pemerintah Mesir (1991)
Megawati Sukarno Putri
Nama : Dr (HC) Hj. Megawati Soekarnoputri
Nama Lengkap : Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri
Lahir : Yogyakarta, 23 Januari 1947
Agama : Islam
Suami : Taufik Kiemas
Anak: 3 orang, (2 putra, 1 putri)
Karir :
:: Presiden Ke-5 RI (2001 - 2004)
:: Wakil Presiden RI (1999- 2001)
:: Anggota DPR/MPR RI (1999)
:: Anggota DPR/MPR RI (1987-1992)
Pendidikan :
:: SD s/d SMA Perguruan Cikini
:: Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran (1965-1967)
:: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (1970-1972).
Organisasi :
:: Aktivis GMNI, 1965-1972
:: Ketua Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Cabang Jakarta Pusat
:: Ketua Umum DPP PDI, 1993-1998, Hasil Munas 1993, 22 Desember 1993-1998
:: Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, 1998-April 2000, Hasil Kongres 1998, Sanur, Bali, 8-10 Oktober 1998
:: Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, April 2000-2005, Hasil Kongres PDI-P, Semarang, Jawa Tengah, April 2000
:: Peserta Konvensi Wanita Islam International di Pakistan, 1994
Penghargaan
:: “Priyadarshni Award” dari lembaga Priyadarshni Academy, Mumbay, India, 19 September 1998
:: Doctor Honoris Causa dari Universitas Waseda, Tokyo, Jepang, 29 September 2001
Susilo Bambang Yudhoyono
Nama : Jenderal TNI (Purn) Susilo Bambang Yudhoyono
Lahir : Pacitan, Jawa Timur, 9 September 1949
Agama : Islam
Istri : Kristiani Herawati,
putri ketiga almarhum Jenderal (Purn) Sarwo Edhi Wibowo
Anak : Agus Harimurti Yudhoyono dan Edhie Baskoro Yudhoyono
Pangkat terakhir :
Jenderal TNI (25 September 2000)
Pendidikan:
= Akademi Angkatan Bersenjata RI (Akabri) tahun 1973
= American Language Course, Lackland, Texas AS, 1976
= Airbone and Ranger Course, Fort Benning , AS, 1976
= Infantry Officer Advanced Course, Fort Benning, AS, 1982-1983
= On the job training di 82-nd Airbone Division, Fort Bragg, AS, 1983
= Jungle Warfare School, Panama, 1983
= Antitank Weapon Course di Belgia dan Jerman, 1984
= Kursus Komando Batalyon, 1985
= Sekolah Komando Angkatan Darat, 1988-1989
= Command and General Staff College, Fort = Leavenwort,Kansas, AS
Master of Art (MA) dari Management Webster University, Missouri, AS
Karier:
- Dan Tonpan Yonif Linud 330 Kostrad (1974-1976)
- Dan Tonpan Yonif 305 Kostrad (1976-1977)
- Dan Tn Mo 81 Yonif Linud 330 Kostrad (1977)
- Pasi-2/Ops Mabrigif Linud 17 Kujang I Kostrad (1977-1978)
- Dan Kipan Yonif Linud 330 Kostrad (1979-1981)
- Paban Muda Sops SUAD (1981-1982)
- Komandan Sekolah Pelatih Infanteri (1983-1985)
- Dan Yonif 744 Dam IX/Udayana (1986-1988)
- Paban Madyalat Sops Dam IX/Udayana (1988)
- Dosen Seskoad (1989-1992)
- Korspri Pangab (1993)
- Dan Brigif Linud 17 Kujang 1 Kostrad (1993-1994)
- Asops Kodam Jaya (1994-1995)
- Danrem 072/Pamungkas Kodam IV/Diponegoro (1995)
- Chief Military Observer United Nation Peace Forces (UNPF) di Bosnia-Herzegovina (sejak awal November 1995)
- Kasdam Jaya (1996-hanya lima bulan)
- Pangdam II/Sriwijaya (1996-) sekaligus Ketua Bakorstanasda
- Ketua Fraksi ABRI MPR (Sidang Istimewa MPR 1998)
- Kepala Staf Teritorial (Kaster ABRI (1998-1999)
- Mentamben (sejak 26 Oktober 1999)
- Menko Polsoskam (Pemerintahan Presiden KH Abdurrahman Wahid)
- Menko Polkam (Pemerintahan Presiden Megawati Sukarnopotri) mengundurkan diri 11 Maret 2004
Penugasan:
Operasi Timor Timur (1979-1980), dan 1986-1988
Penghargaan:
- Adi Makayasa (lulusan terbaik Akabri 1973)
- Honorour Graduated IOAC, USA, 1983
- Tokoh Berbahasa Lisan Terbaik, 2003.
Kamis, 02 Februari 2012
Biodata Presiden - Presiden RI
Palestina Masalah Utama Dunia Islam !
Rahbar menyinggung penyebab dan faktor pemicu pasang surutnya sebagian kelompok Palestina dan penyelewengan mereka dari jalan perjuangan yang didukung rakyat. "Pasang surut resistensi Muqawama hingga penyerahan sebagian kelompok kepada dialog rekonsiliasi dan pengkhianatan sebagian rezim Arab yang menyepakati perjanjian Camp David di Mesir, merupakan titik balik terbentuknya gerakan-gerakan Muqawama bangsa Palestina demi menggapai hak-hak mereka yang telah diinjak-injak," tegas Pemimipin Besar Revolusi Islam Iran.
Rahbar juga menilai transformasi penting seperti kekalahan memalukan militer rezim Zionis Israel di Lebanon Selatan dan kegagalan rezim ini di Jalur gaza merupakan kemenangan yang gemilang rakyat Palestina dalam membela hak-haknya.
Ayatullah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei menganggap rencana Otorita Palestina saat ini merupakan penyerahan kepada keinginan Israel dan pengabaian terhadap hak-hak para pengungsi Palestina. "Hak-hak bangsa Palestina yang harus terpenuhi tidak hanya pembebasan sebagian tanah Palestina saja, namun hak mereka terhadap seluruh tanah Palestina," ungkap beliau.
Seraya menolak segala bentuk rencana Amerika dan Israel untuk membagi-bagi wilayah Palestina, Rahbar menambahkan bahwa rencana tersebut berarti mengabaikan hak-hak para pengungsi Palestina dan bertentangan dengan hak bangsa ini yang tinggal pada tahun 1948. "Rencana itu juga bermakna membiarkan adanya tumor kanker di kawasan dan terulangnya kembali kesengsaraan puluhan tahun bangsa Palestina,"tuturnya.
Rahbar menilai sikap Republik Islam Iran dalam menyelesaikan masalah Palestina sangat jelas dan logika Iran sama dengan konvensi internasional. Iran tidak menawarkan perang klasik dengan mengerahkan pasukan Islam, dan melemparkan para Yahudi ke laut atau menawarkan pemeritahan kepada lembaga internasional, tetapi Iran menawarkan referendum rakyat Palestina, sebab bangsa Palestina mempunyai hak menentukan sendiri nasibnya. Semua rakyat Palestina, baik Muslim maupun Kristen kecuali para imigran asing, harus ikut dalam referendum itu. Dalam proses ini, nasib mereka yang telah berimigrasi ke Palestina harus ditentukan.
Dalam pidatonya, rahbar juga menyinggung pidato Presiden AS, Barack Obama yang mengatakan bahwa Israel adalah garis merah Amerika. "Pernyataan itu memunculkan pertanyaan bahwa siapa yang menggambar garis merah tersebut? Apakah garis itu berdasarkan kepentingan rakyat Amerika, atau hanya kebutuhan Presiden Amerika kepada dukungan lobi-lobi Zionis Israel untuk menyukseskan dan menjaga kekuasaannya di pemilu kedua?" kata Rahbar menyoal.
Rahbar juga menilai bahwa pondasi dan sumber segala bentuk problem ekonomi, sosial dan moral di Eropa dan Amerika menunjukkan dominasi gurita Zionis di dalam pemerintah negara-negara tersebut.
Konferensi Internasional Solidaritas Palestina ke-5 digelar hari ini (Sabtu, 1/10) di Tehran, Iran. Pertemuan itu dihadiri lebih dari 50 delegasi parlemen, cendekiawan, pengamat dan politikus negara-negara Islam dan non-Muslim. Rencananya konferensi tersebut berlangsung dua hari.(IRIB/RA/PH)
Meretas Masalah Pendidikan di Indonesia
Membicarakan
masalah pendidikan memang tak pernah lekang selama pendidikan itu
sendiri masih dibungkus oleh kepura-puraan, nafsu memperebukan kedudukan
dan pemaksaan satu flatfom berpikir bersama terhadap seluruh rakyat.
Pendidikan sebagai garda terdepan kemajuan, seharusnya mampu membangun
karakter bangsa, mempengaruhi budaya dan membentuk paradigma berfikir
yang progresif dan visioner. Jadi, mengingat kacaunya sistem dinegeri
ini, sudah seharusnyalah pemerintah lewat instrumennya totalitas dalam
mewujudkan semua itu sesuai dengan amanah konstitusi. Tapi lagi-lagi,
pendidikan dinegeri ini seperti tidak jelas arah yang ingin dicapai.
Masih banyaknya permasalahan dalam dunia pendidikan sepertinya
menjauhkan harapan undang-undang dalam usaha mencerdaskan kehidupan
bangsa. Bahkan lahirnya generasi pemuja trendi dan gaya hidup tak bisa
kita lepaskan dari peranan pendidik. Tentunya ini membuat kita bertanya,
kenapa sekolah tidak lagi berdaya untuk memberikan harapan dan juga
tidak berdaya menghasilkan manusia yang tangguh menghadapi tantangan
moral maupun intelektual. Kenapa proses pembodohan masih saja terjadi.
Bahkan tersistematis. Padahal pendidikan harus menjadi penunjang
kemerdekaan. Lalu apa yang sebenarnya salah dalam negeri ini, sistem
kah, sekolah kah, orang tua, murid ataukah guru? Benarkah sekolah
menjadi ladang persemaian dari proses pencapaian itu? Benarkah guru yang
memberikan arti dari proses persemaian itu? Benarkah anak didik berjiwa
merdeka setelah berproses dalam pendidikan?
Pada
dasarnya, esensi pendidikan itu ialah membangun, membentuk dan
menghasilkan manusia yang merdeka. Merdeka jiwanya dan merdeka batinnya.
Merujuk pada konsep Ki Hadjar Dewantara (K.H Dewantara Bag. Pertama;
Pendidikan, 2004), mendidik itu sendiri adalah berdaya upaya dengan
sengaja untuk memajukan hidup-tumbuhnya budi-pekerti (rasa-pikiran-roh)
dan badan anak dengan jalan pengajaran, teladan dan pembiasaan, jangan
disertai dengan perintah dan paksaan. Jadi teranglah bahwa pendidikan
bisa diartikan sebagai tuntunan didalam hidup tumbuhnya anak-anak.
Maksudnya yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak
itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah
mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Nah jelas
sekali esensi pendidikan kalau dilihat dari penjelasan itu. Tapi,
seiring perjalanan waktu, esensi itu hilang dan tergantikan oleh
teori-teori yang substansinya menjajah. Jadi pendidikan tidak seperti
yang di gariskan KHD yang totalitas melayani kebutuhan generasi dalam
negeri, membebaskan anak dari semua bentuk penjajahan dan mencerdaskan
kehidupan bangsa seperti amanat undang-undang, tapi pendidikan sekarang
hanya sebatas perahan oleh kepentingan kelompok-kelompok tertentu
(kapital dan neoliberal). Padahal, kalau merujuk pada petunjuk
pendahulu, maka permasalahan pendidikan seharusnya dapat diminimalisir
bahkan ditiadakan. Bahkan sampai masalah pedagogik (sistem among). Lebih
dari itu, guna menunjang kemerdekaan lahir dan batin sang anak didik
yang nyata, KHD pun dengan tegas menyatakan bahwa antara guru dan murid
dibangun relasi yang menyerupai seperti rekan (partner) dalam proses
belajar mengajar. Jadi dengan cara itu, maka praktik dikotomis bisa
diminimalisir. Tapi nyatanya, pendidikan kita bukannya meminimalisir
dikotomi tersebut, malah sebaliknya sengaja dipelihara. Pendidikan
dengan guru sebagai instrumennya, sengaja memelihara phobia tersebut
agar menekan arus kritik atau masukan terhadap sosok guru yang ’katanya’
berwibawa. Dengan adanya dikotomi ini akhirnya menimbulkan perbedaan
dimana guru ditempatkan sebagai patron dan murid sebagai klien. Jadi
seolah-olah guru adalah seorang ’resi’ yang tidak bisa dibantah,
sekalipun salah (jadi benar seperti yang dikatakan bahwa nasib murid ada
ditangan (tepatnya: ujung pena) sang guru. Berani melawan guru bisa
berakibat buruk meskipun sebenarnya guru sendiri yang salah. Bahkan
jangankan berani melawan guru, membantah saja sudah pasti alamat buruk).
Tentunya dari kekacauan sistem dan metoda pendidikan yang ada sekarang, mengingatkan kita pada kritik metode pendidikan gaya bank (banking concept education) Paulo Freire, dimana murid diberi ilmu pengetahuan agar ia kelak dapat mendatangkan hasil dengan lipat ganda. Jadi anak didik adalah obyek investasi dan sumber deposito potensial. Mereka tidak berbeda dengan komoditi ekonomis lainnya yang lazim dikenal. Depositor atau investornya adalah para guru yang mewakili lembaga-lembaga kemasyarakatan yang mapan dan berkuasa, sementara depositonya adalah berupa ilmu pengetahuan yang diajarkan kepada anak-anak didik.
Sementara itu, anak didik pun lantas di perlakukan sebagai ’bejana kosong’ yang akan diisi, sebagai sarana tabungan atau penanaman ’modal ilmu pengetahuan’ yang akan dipetik hasilnya kelak. Ini setali tiga uang dengan konsep ’TabulaRasa’ Jhon Locke, dimana anak didik diposisikan sebagai instrumen yang hanya bisa menerima saja apa yang dikatakan oleh guru. Sehingga model pendidikan akhirnya hanya menjadi tranfer ilmu pengetahuan semata antara sang guru dengan sang murid dengan mengekang alam bawah sadar sang anak didik tanpa perlu mereka melakukan kritik otokritik terhadap sistem yang selalu berubah setiap waktu. Jadi guru adalah subyek aktif, sedang anak didik adalah obyek pasif yang penurut dan diperlakukan tidak berbeda atau menjadi bagian dari realitas dunia yang diajarkan kepada mereka, sebagai obyek ilmu pengetahuan teoritis yang tidak berkesadaran. Pendidikan akhirnya bersifat negatif dimana guru memberi informasi yang harus ditelan oleh murid, yang wajib diingatkan dan dihapalkan tanpa memberikan kemerdekaan bagi sang anak didik untuk menganalisa dan menentukan sendiri apa yang dicarinya.
Tentunya dari kekacauan sistem dan metoda pendidikan yang ada sekarang, mengingatkan kita pada kritik metode pendidikan gaya bank (banking concept education) Paulo Freire, dimana murid diberi ilmu pengetahuan agar ia kelak dapat mendatangkan hasil dengan lipat ganda. Jadi anak didik adalah obyek investasi dan sumber deposito potensial. Mereka tidak berbeda dengan komoditi ekonomis lainnya yang lazim dikenal. Depositor atau investornya adalah para guru yang mewakili lembaga-lembaga kemasyarakatan yang mapan dan berkuasa, sementara depositonya adalah berupa ilmu pengetahuan yang diajarkan kepada anak-anak didik.
Sementara itu, anak didik pun lantas di perlakukan sebagai ’bejana kosong’ yang akan diisi, sebagai sarana tabungan atau penanaman ’modal ilmu pengetahuan’ yang akan dipetik hasilnya kelak. Ini setali tiga uang dengan konsep ’TabulaRasa’ Jhon Locke, dimana anak didik diposisikan sebagai instrumen yang hanya bisa menerima saja apa yang dikatakan oleh guru. Sehingga model pendidikan akhirnya hanya menjadi tranfer ilmu pengetahuan semata antara sang guru dengan sang murid dengan mengekang alam bawah sadar sang anak didik tanpa perlu mereka melakukan kritik otokritik terhadap sistem yang selalu berubah setiap waktu. Jadi guru adalah subyek aktif, sedang anak didik adalah obyek pasif yang penurut dan diperlakukan tidak berbeda atau menjadi bagian dari realitas dunia yang diajarkan kepada mereka, sebagai obyek ilmu pengetahuan teoritis yang tidak berkesadaran. Pendidikan akhirnya bersifat negatif dimana guru memberi informasi yang harus ditelan oleh murid, yang wajib diingatkan dan dihapalkan tanpa memberikan kemerdekaan bagi sang anak didik untuk menganalisa dan menentukan sendiri apa yang dicarinya.
Secara
sederhana Freire menyusun daftar antagonisme pendidikan ’gaya bank’ itu
ialah (1) guru mengajar, murid belajar (2) guru tahu segalanya, murid
tidak tahu apa-apa (3) guru berpikir, murid dipikirkan (4) guru bicara,
murid mendengarkan (5) guru mengatur, murid diatur (6) guru memilih dan
memaksakan pilihannya, murid menuruti (7) guru bertindak, murid
membayangkan bagaimana bertindak sesuai dengan gurunya (8) guru memilih
apa yang diajarkan, murid menyesuaikan diri (9) guru mengacaukan
wewenang ilmu pengetahuan dengan wewenang profesionalismenya, dan
mempertentangkannya dengan kebebasan murid-murid, dan (10) guru adalah
subyek proses belajar, murid obyeknya - Oleh karena guru yang menjadi
pusat segalanya, maka merupakan hal yang lumrah saja jika murid-murid
kemudian mengidentifikasi diri seperti gurunya sebagai prototip manusia
ideal yang harus ditiru dan digugu, harus diteladani dalam semua hal
(Paulo Freire; Politik Pendidikan; Kebudayaan, Kekuasaan dan Pembebasan,
2007).
Implikasinya,
menurut Freire, lebih jauh adalah bahwa pada saatnya nanti murid-murid
akan benar-benar menjadikan diri mereka sebagai duplikasi guru mereka
dahulu. Sistem pendidikan, karena itu menjadi sarana terbaik untuk
memelihara keberlangsungan status quo sepanjang masa yang menjadikan
anak didik sebagai manusia terasing dan tercerabut dari realitas dirinya
sendiri dan realitas dunia sekitarnya (sangat berbeda dengan yang
pernah di impikan KHD bahwa dengan pendidikan akan menggiring manusia
menuju kemerdekaannya baik batin maupun lahirnya), bukan menjadi
kekuatan penggugah (subversive force) kearah perubahan dan pembaharuan.
Dengan pendidikan semacam itu, maka anak didik pada akhirnya menjadi
makhluk-makluk mitos pemuja simbol-simbol duniawi lewat angka-angka yang
diberikan oleh guru. Anak didik sengaja dilekatkan pada proses
penciptaan rasa kecintaan pada segala yang tidak memiliki jiwa kehidupan
(nekrofili) dan bukannya melahirkan kecintaan pada segala yang memiliki
jiwa kehidupan (biofili)’ (Erich Fromm, 1966).
Tidak
hanya itu, realitas negeri ini selalu memperlihatkan keberingasannya
dalam membentuk pola yang seragam dari setiap lintas generasi.
Alasan-alasan klasik acapkali menjadi tameng yang sesungguhnya kontra
rakyat dan inkonstitusi. Lihat saja contohnya anggaran untuk pendidikan
yang selalu tersendat selama-lamanya. Sehingga berimbas pada pemenuhan
kebutuhan dalam pendidikan seperti fasilitas dan sebagainya. Pendidikan
masih dijadikan ’anak tiri’ (tak jauh berbeda seperti dimasa kolonial)
di dalam negeri. Ini bisa kita perbandingkan dengan Jepang yang terkenal
dengan kehebatan sains dan ketinggian teknologinya. Mengapa bisa
begitu? Mengapa Jepang mampu menjadi negara yang mencipta teknologi
sedangkan kita hanya mampu menjadi pengguna teknologi? Itu karena Jepang
benar-benar menghargai arti pendidikan, mendahulukan kepentingan
pendidikan daripada kepentingan yang lain, dan tidak segan-segan
mengeluarkan dana yang besar untuk pendidikan (M. Joko Susilo;
Pembodohan Siswa Tersistematis, 2007). Sedangkan negara kita hanya sibuk
membicarakan kedudukan sehingga pendidikan menjadi perhatian yang
kesekian. Jadi wajar kalau pendidikan kita mundur. Selain itu, tri pusat
pendidikan seperti yang di gagas KHD, tak semuanya berlaku. Bahkan yang
terjadi hanya tunggal pusat yaitu pendidikan di sekolah. Celakanya
inipun tidak dilakukan secara maksimal dan terlalu banyak ’permainan’
didalamnya, baik oleh oknum guru maupun oleh institusi sekolah. Berbagai
kasus seperti korupsi dan lainnya adalah cermin terhadap budaya
tersebut. Kurikulum pun juga selalu membingungkan anak didik dimana
outcame nya tidak jelas juntrungannya. Artinya pembangunan karakter
terhadap anak didik tidak pernah dilakukan. Padahal pendidikan karakter
penting peranannya dalam menciptakan watak dan kepribadian. Terjadinya
tindakan amoral dan melawan hukum seperti korupsi dan sebagainya adalah
buah dari problem mendasar manusia secara moral dan mentalitas yang
terkait dengan watak dan kepribadian. Karena pendidikan seharusnya
membangun watak yang baik sehingga mampu menjadi pribadi yang baik dan
membuat karakter yang baik pula. Sehingga dengan karakter yang baik,
mungkin tindakan amoral dan lainnya seperti melawan konstitusi tidak
akan terjadi. Tapi perlu diingat bahwa dalam pendidikan karakter, sudah
seharusnya terlebih dahulu pendidik harus memenuhi komitmen, integritas
dan kapabilitas atau kemampuan dan ketrampilan. Ini supaya pendidikan
tidak hanya menjadi sekadar pelajaran biasa yang lebih menekankan pada
aspek kognitif saja (Melki AS; SKH Kedaulatan Rakyat; Menunggu
Pendidikan Karakter, 01 Mei 2010). Nah, disini sekolah adalah salah satu
jembatan untuk membangun karakter itu. Kalau prosesnya buruk, maka akan
melahirkan karakter yang buruk pula. Kalau prosesnya baik, maka
karakter yang tercipta pun akan baik pula. Celakanya lagi adalah di
negeri ini justru tidak ada pendidikan karakter. Bagaimana mau
menselaraskan dengan cita-cita nasional ‘Charachter and National
Building’? Sementara berbicara proses, lembaga pendidikan pun tidak
mampu mengerem itu semua. Justru lembaga pendidikan malah berselimutkan
korupsi (termasuk korupsi waktu yang bayak dilakukan para guru. Kalau
boleh dibilang, korupsi waktu mengajar adalah termasuk kejahatan
pendidikan/educational crime). Sehingga kegagalan pendidikan seperti
yang banyak disitir berbagai kalangan menjadi maklum karena ternyata
terjadinya berbagai proses pembodohan yang dilakukan sekolah ataupun
guru memang sudah tersistemkan.
Nah ini semua yang menyebabkan pendidikan di tanah air ini semakin mundur. Diperparah lagi dengan tidak jelasnya regulasi pemerintah dalam menyikapi bahaya laten kapitalisme yang nyata-nyata merasuk ke dalam dunia pendidikan kita. Contohnya UU BHP. Meskipun sudah dicabut tapi perlu kita catat bahwa ini adalah upaya mengkapitalisasikan pendidikan dimana muaranya adalah menjual pendidikan dengan ber-orientasikan pada profit (bisnis pendidikan) sehingga bisa dibayangkan semakin banyak rakyat akan menjadi bodoh karena semakin susah akses untuk mengenyam pendidikan. Tapi itu tidak perlu dicemaskan lagi karena sudah dicabut. Yang perlu dikhawatirkan juga adalah bahaya laten pasca BHP dicabut. Karena sangat berpotensi terjadinya kanibalisme. Artinya konten yang ada dalam BHP yang telah dicabut itu, bisa saja dikembalikan dalam bentuk dan format berbeda oleh sebuah permen (peraturan menteri). ”Karena pembatalan BHP justru hanya manipulasi terminologi saja yang sebenarnya pemerintah tidak rela oleh pembatalan yang dilakukan oleh Mahkamah Konstitusi (MK). Sehingga berupaya tetap menghidupkan roh (BHP) dengan jasad yang berbeda” tulis Darmaningtyas pada SKH Kompas, Senin 03 Mri 2010. Cara itu ditempuh pemerintah karena disatu sisi tidak mau dituduh melanggar putusan MK, disisi lainnya mereka juga tidak ingin di permalukan atas pembatalan UU BHP. Mereka sudah terlanjur teken kontrak dengan Bank Dunia melalui Proyek Pengembangan Relevansi dan Efisiensi Pendidikan Tinggi untuk mewujudkan UU BHP paling lambat tahun 2010. Nah kalau ini masih terjadi, tentunya bertentangan dengan amanah konstitusi, dimana hak untuk mendapatkan pendidikan dijamin berdasar undang-undang dan dijalankan sepenuhnya oleh pemerintah. Sudah seharusnya rakyat mengerti itu, guru juga mengerti sehingga terjadi pengawasan bersama terhadap policy yang dikeluarkan oleh pemerintah tersebut. Karena tanpa pengawasan bersama maka memungkinkan untuk terjadi tsunami pendidikan mengingat bahwa manusia sebenarnya adalah homo economicus yang berusaha mencari untung yang sebesar-besarnya meskipun harus menjual dunia pendidikan dll. Bahkan kalau ini terjadi dan terus tanpa regulasi yang jelas, maka bukan tidak mungkin, seperti yang ditulis Anthony Giddens dalam bukunya ’Dunia yang Berlari’, bahwa umat manusia bisa mati oleh keserakahan beberapa orang saja (Anthony Giddens,Runaway world; The Thirth Way, 1999).
Nah ini semua yang menyebabkan pendidikan di tanah air ini semakin mundur. Diperparah lagi dengan tidak jelasnya regulasi pemerintah dalam menyikapi bahaya laten kapitalisme yang nyata-nyata merasuk ke dalam dunia pendidikan kita. Contohnya UU BHP. Meskipun sudah dicabut tapi perlu kita catat bahwa ini adalah upaya mengkapitalisasikan pendidikan dimana muaranya adalah menjual pendidikan dengan ber-orientasikan pada profit (bisnis pendidikan) sehingga bisa dibayangkan semakin banyak rakyat akan menjadi bodoh karena semakin susah akses untuk mengenyam pendidikan. Tapi itu tidak perlu dicemaskan lagi karena sudah dicabut. Yang perlu dikhawatirkan juga adalah bahaya laten pasca BHP dicabut. Karena sangat berpotensi terjadinya kanibalisme. Artinya konten yang ada dalam BHP yang telah dicabut itu, bisa saja dikembalikan dalam bentuk dan format berbeda oleh sebuah permen (peraturan menteri). ”Karena pembatalan BHP justru hanya manipulasi terminologi saja yang sebenarnya pemerintah tidak rela oleh pembatalan yang dilakukan oleh Mahkamah Konstitusi (MK). Sehingga berupaya tetap menghidupkan roh (BHP) dengan jasad yang berbeda” tulis Darmaningtyas pada SKH Kompas, Senin 03 Mri 2010. Cara itu ditempuh pemerintah karena disatu sisi tidak mau dituduh melanggar putusan MK, disisi lainnya mereka juga tidak ingin di permalukan atas pembatalan UU BHP. Mereka sudah terlanjur teken kontrak dengan Bank Dunia melalui Proyek Pengembangan Relevansi dan Efisiensi Pendidikan Tinggi untuk mewujudkan UU BHP paling lambat tahun 2010. Nah kalau ini masih terjadi, tentunya bertentangan dengan amanah konstitusi, dimana hak untuk mendapatkan pendidikan dijamin berdasar undang-undang dan dijalankan sepenuhnya oleh pemerintah. Sudah seharusnya rakyat mengerti itu, guru juga mengerti sehingga terjadi pengawasan bersama terhadap policy yang dikeluarkan oleh pemerintah tersebut. Karena tanpa pengawasan bersama maka memungkinkan untuk terjadi tsunami pendidikan mengingat bahwa manusia sebenarnya adalah homo economicus yang berusaha mencari untung yang sebesar-besarnya meskipun harus menjual dunia pendidikan dll. Bahkan kalau ini terjadi dan terus tanpa regulasi yang jelas, maka bukan tidak mungkin, seperti yang ditulis Anthony Giddens dalam bukunya ’Dunia yang Berlari’, bahwa umat manusia bisa mati oleh keserakahan beberapa orang saja (Anthony Giddens,Runaway world; The Thirth Way, 1999).
Selain
itu, yang turut memperkeruh pendidikan ialah dengan adanya
pemaksaan-pemaksaan yang dilakukan pemerintah dan di turuti oleh
instrumen dibawahnya seperti di sekolah. Pemerintah sibuk dengan
mengujicobakan berbagai konsep, yang pada akhirnya banyak yang
bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945. Misalnya kebijakan tentang
UAN, PT BHMN, Internasionalisasi, dan sebagainya. Lihat saja contoh
UAN, secara logik, dapat dilihat bagaimana tidak adilnya metode itu
untuk menilai kualitas sang anak didik. Karena kualitas anak didik di
tentukan sesuai dengan dirinya sendiri. Adanya metode ujian akhir,
sebaiknya cukup pada tataran melihat batas kemampuan murid, bukannya
menjadi penentu segalanya dari pendidikan mereka. Padahal mereka belajar
bertahun-tahun, tapi pada akhirnya di tentukan dengan ujian yang cukup
satu minggu saja dengan beberapa pelajaran saja. Jadi wajar, selama UAN
masih ada, maka bukan tidak mungkin pada momen kelulusan, telinga kita
di penuhi informasi tentang murid yang stress bahkan bunuh diri,
disamping hura-hura berlebihan yang ditunjukan oleh mereka yang lulus.
Jadi kalau anak didik lulus dan mendapat nilai besar (nilai disini
berarti yang dilihat berdasar angka) dalam setiap ujian, maka bisa
dikatakan cerdas, pandai, pintar dan sebagainya. Padahal kecerdasan itu
adalah sesuatu yang linier dengan perkembangan dan perubahan. Adakalanya
teori lama tak terpkai lagi, dan adakalanya teori itu masih relevan
dengan zaman. Adanya konsep UAN seperti yang dilakukan sampai sekarang
ini turut merubah paradigma berpikir bahwa satu-satunya hal yang paling
keramat dalam pendidikan adalah simbolisasi yang ditunjukan dengan angka
yang menyapu semua ilmu pengetahuan sama seperti matematika, fisika
serta ekonomi yang abstrak. Padahal ada cabang ilmu lainnya yang
membutuhkan nalar berpikir karena selalu berubah seiring perubahan zaman
yang cepat. Misalnya pelajaran Pancasila. Karena seperti dalam
pembelajaran Pancasila, dituntut untuk suatu penghayatan, bukan berdasar
hitungan semata. Tapi lagi-lagi, dalam pelajaran ini, sekolah dan guru
pun gagal mengajarkan esensinya. Karena yang diketahui murid cuma
penghapalan sila dan pasal per pasalnya saja. Esensi, penghayatan serta
pengamalannya justru tidak sama sekali diajarkan. Maka tak heran ketika
praktik melawan hukum selalu subur dinegeri ini karena ’nilai-nilai’
(nilai disini berarti yang dilihat berdasarkan esensi) ke-Indonesiannya
memang tidak dipernah digubriskan, apalagi diajarkan.
Sementara
itu, kebijakan tentang Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) dengan
iming-iming kualitas lebih baik, justru hanya sekadar menjadi cerita
usang dibalik ironisnya nasib rakyat negeri ini yang semakin memburuk
karena perang gengsi dunia ekonomi. Karena justru yang ada bukannya
bertaraf internasional, yang ada adalah bertarif (biaya) internasional.
Jadi wajar kalau rakyat tidak punya uang banyak, maka tidak bisa
mengakses pendidikan. Jadi kebijakan itu seharusnya belum perlu
dimasukan karena memang belum terlalu penting bagi bangsa ini mengingat
masih banyak yang belum bisa mengakses pendidikan. Bahkan dari catatan
dinas pendidikan (www.TempoInteraktif.com/Rabu 28 April 2010) sendiri
bahwa perbandingan kualitas (output) dari sekolah berstandar
Internasional dengan sekolah nasional biasa, justru lebih unggul sekolah
nasional dengan perbandingan angka keluusan dari 97, 74 % ditahun
sebelumnya, menjadi 89,88 % ditahun ini (meskipun disini KHD menolak
istilah sekolah-sekolah dengan identitas unggul, penilaian berdasar
simbol angka-angka seperti metode UAN dan sebagainya). Jadi rasanya
mustahil ketika kita ingin membicarakan kualitas yang baik di tengah
kuantitas yang ironik. Artinya, kualitas boleh saja kita turunkan
asalkan kesempatan untuk bisa mengenyam pendidikan bisa dirasakan oleh
seluruh rakyat (Melki AS; SKH Kedaulatan Rakyat; Menunggu Pendidikan
Karakter, 01 Mei 2010).
Nah
berkaca dari itu semua, sudah seharusnya dalam usaha memperbaiki segala
keadaan tentang pendidikan adalah kembali ke dasar dan esensi
pendidikan sebelumnya. Kiranya ada baiknya jikalau pemerintah menerapkan
pendidikan karakter dan budi pekerti yang memang telah lama di
hilangkan dinegeri ini. Karena dengan adanya pendidikan karakter dan
budi pekerti, bangsa ini bisa menuai generasi yang mampu bertarung
secara moral dan intelektual dalam dunia yang selalu berubah-ubah tanpa
meninggalkan ciri khas kebangsaannya. Karena budi pekerti menyokong
perkembangan hidup anak-anak, lahir dan batin, dari sifat kodratinya
menuju kearah peradaban dalam sifatnya yang umum. Ini berbeda dengan
pengajaran biasa, karena didalam pengajaran budi pekerti, lebih
menekankan pada proses penganjuran kepada anak-anak agar membiasakan
bertingkah laku yang baik supaya dapat pengertian dan penginsyafan pula
tentang kebaikan dan keburukan pada umumnya. Kemudian mampu melakukan
pelbagai laku yang baik dengan cara di sengaja. Inilah yang disebut KHD
dengan metode tri ’Ng’; Ngreti, Ngrasa, Nglakoni (menyadari, menginsyafi
dan melakukan). Ini sama halnya dengan pola pendidikan islam yang
metodenya ditekankan pada ’Syariat, Hakikat Tarikat dan Makrifat’.
Selain itu, proses pendidikan (hubungan guru dan murid dalam menyemai
proses itu) pun juga harus kembali pada proses memanusiakan manusia.
Bukan malah menjadikan manusia seperti kerbau yang di colok hidungnya
dan bisa di perintah apa saja seenak hati. Sudah seharusnya dalam proses
tersebut, guru mengajukan bahan untuk dipertimbangkan oleh murid dan
pertimbangan sang guru sendiri di ujikan kembali setelah dipertemukan
dengan pertimbangan murid-murid. Begitupun sebaliknya. Hubungan keduanya
pun harus jelas yaitu bukan antara patron (subyek/guru) dengan klien
(obyek/murid). Karena obyek sesungguhnya adalah realita, bukan murid.
Jadi pendidikan bersandar pada proses dialogisnya, bukan
pencapaian-pencapaian hasil akhir lewat simbol angka-angka dan
sebagainya. Dan dengan proses ini maka pendidikan akan benar-benar
menciptakan generasi yang saling menghargai dan merdeka seperti yang
diamanatkan Ki Hadjar Dewantara. Pemerintahpun sebagai muara dari segala
keputusan juga harus peka mendengar suara-suara dari masyarakat agar
policy yang di keluarkan benar-benar menyentuh kebutuhan rakyat.
Pemerintah juga jangan hanya asyik berpolitik ’ngawur’ saja, korupsi,
bermesum ria, menghabiskan uang rakyat dengan kemasan studi banding
keluar negeri, tapi sekarang benar-benar harus mulai berpikir bagaimana
caranya untuk memperbaiki keadaan pendidikan negeri ini dengan
menyiapkan metode dan model serta pola pendidikan yang sifatnya
humanistik dan berkualitas. Karena kalau tidak, maka jangan harap kita
bisa menatap pendidikan yang menghasilkan generasi yang bisa memajukan
bangsa. Justru yang akan kita lihat adalah pendidikan tak ubahnya
seperti panggung komedi opera pembodohan kalau tidak ditanggulangi
segera.
Dan
yang tak kalah pentingnya adalah ketertarikan menjadi pendidik jangan
hanya berdasar pada iming-iming gaji. Tapi memang harus dengan penuh
rasa pengabdian yang tulus sebagai lokomotif memajukan bangsa dan
meneruskan cita-cita nasional. Harus kita akui bahwa kemunduran
pendidikan adalah juga merupakan imbas dari pendidik atau gurunya
sendiri yang tidak konsisten dalam mendidik. Para guru dewasa ini
kebanyakan hanya ingin menjadi guru karena penghasilannya saja tanpa
mempertimbangkan apakah murid bisa berkembang atau tidak, bodoh atau
pintar, mampu atau tidak mampu. Yang terpenting kata ’mereka’ bahwa kami
hanya mengajar dan pemenuhan jam mengajar itu saja, kemudian setiap
awal bulan ambil gaji. Nah tinggal sekarang yang sadar akan artinya
pendidikan, terutama guru, harus lebih dewasa dan obyektif lagi dalam
mengarahkan kemajuan dan usaha pencerdasan bangsa ke depan. Tanpa itu
semua, maka bukan hanya pendidikan saja yang akan runtuh, bahkan negara
pun bisa jatuh karena masyarakatnya bodoh. Sekiranya, era kolonial telah
mengajarkan bahwa dengan kebodohan maka sulit di capai kemerdekaan.
Nah, haruskah kita kembali ke era kolonial tersebut. Saya rasa kita bisa
katakan Tidak. Itu saja.
Syair
Doa-ku… Ya Allah…Engkau Maha Pemaaf…
Ampuni aku dgn segala dosa-dosaku… Maafkn segala khilafku… Engkau Maha
Penyayang… Sayangi aku… Sesak dadaku saat ku tahu cinta ini tak bertuan…
Engkau Maha Adil… Berikanlah keadilan pada hati ini… Biarkn dia
merasakn kebahagian sejati… Engkau Maha Suci… Ijinkn aku menemukan cinta
suci d muka bumi ini… Engkau Maha Pemberi… Berikanlah aku petunjukMU ya
Allah… Sapakh yg Engkau tunjuk sbg pemilik hati ini??? Aku yakin dengan
kekuatan sebuah doa ya Allah… Kabulkanlah doa hambaMU ini ya Allah…
Amien ya Rabbal alamien…
========================================================================
SAAT MALAM TIBA.. Malampun tiba… Ku tatap bulan… Ku sedih… Ku sadar ku
sendiri… Ku pandang bintang… Ku bahagia… Ku yakin ada banyak cinta
untukku… Kan ku tunjuk satu bintang untuk temani malam-malamku… Hingga
esok pagi bintang kan tetap bersinar… Itulah Matahariku… PERMOHONANKU
Aku mohon padamu… jangan pernah engkau mengatakan bahwa engkau
mencintaiku hari ini… namun entah esok pagi… karena aku mencintaimu…
hari ini esok dan seterusnya…
========================================================================
AKU DAN CINTAKU AkU akaN menJadI menTari… yang MeneManimu meNyaMbuT
pagi… aKu akan meNJadi buLaN… Yang Menjagamu dikala MaLam… Namun cinTa
lebih abaDi daRi SemuA ItU… Maka biarKan cinTaku menyelimuti
haRI-HArimu… menemanimu… MenjAgamu… daN menDEkapmu… daLam keHamPaan…
MALAIKAT KECIL Malaikat kecil… antarkan sekuntum bunga untuk Sang
Pecinta agar Dia tahu aku merinduNya.. malaikat kecil… antarkan aku
setetes air dari Sang Pecinta agar hilang dahaga cintaku…
========================================================================
SIAPA??? Mungkin kamu bukan seorang pahlawan yang harus aku kenang
jasanya dengan tanda jasa…. Namun kamu juga bukan seorang guru yang
harus hidup tanpa tanda jasa…. lalu… kamu siapa??? Akupun tak tahu… yang
aku tahu kamu ada di ruang paling dalam di hatiku… namun tidak ada
dihidupku…. DALAM DIAM… AKU MENCINTAIMU Tanpa ku sadari, engkau hadir
dalam hatiku…. Tak banyak yg ingin ku ungkapkn…. Hanya itu. Mugkin ini
salah, krn trlalu cepat ku mencintaimu smntara aq tak mengenalmu…. Ku
hanya ingin memberimu cinta namun tak ada wadah yg kau berikan…. Engkau
diam, aq pun diam… Tak ada isyarat yg meyakinkn ku… Dan kini aku lemah
dlm jebakan cintamu. Aku takut ketika ku sendiri. Namun ketakutn ku
smkin menjadi2 ktka engkau hadir di hatiku…. Karna kini aq meragu…
========================================================================
TETAPLAH DISISIKU Ya Allah… Dimanakah ku harus berlabuh… Saat semua
dermaga menutup pintu, Dan berkata “ ini bukan untukmu…” “Segara menjauh
karna disini bukan tempatmu….!!!” Ya Allah… Katakan padaku, dermaga
untukku berlabuh…??? Agar ku segera menghela nafas kehidupan yang baru.
Sampai kapan ku harus arungi waktu,.. Ku lelah Menunggu suatu yang tak
pasti walau hanya Satu,.. Ya Allah … Beri aku penerang jalan-Mu Agar tak
tersesat saat ku melaju,.. Kuatkan awak kapalku, Saat badai menghalangi
jalanku Ya Allah … Tetaplah disisiku, Jangan Engkau menjauh dariku…
Karna ku mati tanpa hadir-Mu
========================================================================
MENUJUMU Saat ini aku terendap lara... Tenggelam didalam penyesalan...
Ketika semua seakan pergi Hempaskan aku di jalanmu... Diatas kertas
putih ini... Ku goreskan hitamnya jiwa Bersama lautan dosa... Tergambar
jelas di satu sisi... Sucikan tuhan jiwaku Biarkanlah meraihmu...
Menembus dimensi waktu... Kembali dijalanmu.
========================================================================
*SYAIR CINTA KAHLIL GIBRAN* BICARA WANITA Bila dua orang wanita
berbicara, mereka tidak mengatakan apa-apa; tetapi jika seorang saja
yang berbicara, dia akan membuka semua tabir kehidupannya. KESEDARAN Aku
tidak mengetahui kebenaran mutlak. Tetapi aku menyedari kebodohanku
itu, dan di situlah terletak kehormatan dan pahalaku. ILMU DAN AGAMA
Ilmu dan agama itu selalu sepakat, tetapi ilmu dan iman selalu
bertengkar. NILAI BURUK Alangkah buruknya nilai kasih sayang yang
meletakkan batu di satu sisi bangunan dan menghancurkan dinding di sisi
lainnya. MENUAI CINTA Manusia tidak dapat menuai cinta sampai dia
merasakan perpisahan yang menyedihkan, dan yang mampu membuka
fikirannya, merasakan kesabaran yang pahit dan kesulitan yang
menyedihkan. KEHIDUPAN Sebab kehidupan tidak berjalan mundur, pun tidak
tenggelam dimasa lampau. KERJA Kerja adalah wujud nyata cinta. Bila kita
tidak dapat bekerja dengan kecintaan, tapi hanya dengan kebencian,
lebih baik tinggalkan pekerjaan itu. Lalu, duduklah di gerbang rumah
ibadat dan terimalah derma dari mereka yang bekerja dengan penuh suka
cita. SELAMATKAN AKU Selamatkan aku dari dia yang tidak mengatakan
kebenaran kecuali kalau kebenaran itu menyakiti; dan dari orang yang
berperilaku baik tetapi berniat buruk; dan dari dia yang memperoleh
nilai dirinya dengan mencela orang lain. CINTA Salahlah bagi orang yang
mengira bahwa cinta itu datang kerana pergaulan yang lama dan rayuan
yang terus menerus. Cinta adalah tunas pesona jiwa, dan jika tunas ini
tak tercipta dalam sesaat, ia takkan tercipta bertahun-tahun atau bahkan
abad. CINTA Ketika cinta memanggilmu maka dekatilah dia walau jalannya
terjal berliku, jika cinta memelukmu maka dakaplah ia walau pedang di
sela-sela sayapnya melukaimu. CINTA Cinta tidak menyedari kedalamannya
dan terasa pada saat perpisahan pun tiba. Dan saat tangan laki-laki
menyentuh tangan seorang perempuan mereka berdua telah menyentuh hati
keabadian. CINTA Cinta adalah satu-satunya kebebasan di dunia kerana
cinta itu membangkitkan semangat- hukum-hukum kemanusiaan dan gejala
alami pun tak mampu mengubah perjalanannya. CINTA Jika cinta tidak dapat
mengembalikan engkau kepadaku dalam kehidupan ini, pastilah cinta akan
menyatukan kita dalam kehidupan yang akan datang ATAS NAMA CINTA Jangan
kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang
tekun. Cinta adalah kesesuaian jiwa dan jika itu tak pernah ada, cinta
tak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan abad. CINTA YANG
BERLALU Cinta berlalu di depan kita, terbalut dalam kerendahan hati;
tetapi kita lari daripadanya dalam ketakutan, atau bersembunyi di dalam
kegelapan; atau yang lain mengejarnya, untuk berbuat jahat atas namanya.
CINTA LELAKI Setiap lelaki mencintai dua orang perempuan, yang pertama
adalah imaginasinya dan yang kedua adalah yang belum dilahirkan. TAKDIR
CINTA Aku mencintaimu kekasihku, sebelum kita berdekatan, sejak pertama
kulihat engkau. Aku tahu ini adalah takdir. Kita akan selalu bersama dan
tidak akan ada yang memisahkan kita. CINTA PERTAMA Setiap orang muda
pasti teringat cinta pertamanya dan mencuba menangkap kembali hari-hari
asing itu, yang kenangannya mengubah perasaan direlung hatinya dan
membuatnya begitu bahagia di sebalik, kepahitan yang penuh misteri.
LAFAZ CINTA Aku ingin mencintaimu dengan sederhana… seperti kata yang
tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu… Aku ingin
mencintaimu dengan sederhana… seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada. LAFAZ CINTA Jangan
menangis, Kekasihku… Janganlah menangis dan berbahagialah, kerana kita
diikat bersama dalam cinta. Hanya dengan cinta yang indah… kita dapat
bertahan terhadap derita kemiskinan, pahitnya kesedihan, dan duka
perpisahan. KALIMAH CINTA Apa yang telah kucintai laksana seorang anak
yang tak henti-hentinya aku mencintai… Dan, apa yang kucintai kini… akan
kucintai sampai akhir hidupku, kerana cinta ialah semua yang dapat
kucapai… dan tak ada yang akan mencabut diriku dari padanya CINTA DAN
AIRMATA Cinta yang dibasuh oleh airmata akan tetap murni dan indah
sentiasa. WANITA Seorang wanita telah dilengkapi oleh Tuhan dengan
keindahan jiwa dan raga adalah suatu kebenaran, yang sekaligus nyata dan
maya, yang hanya bisa kita fahami dengan cinta kasih, dan hanya bisa
kita sentuh dengan kebajikan. BANGSA Manusia terbahagi dalam bangsa,
negara dan segala perbatasan. Tanah airku adalah alam semesta. Aku
warganegara dunia kemanusiaan.
SMA 6 Madiun
VISI
- Terwujudnya generasi yang cerdas terampil serta berprestasi berdasarkan Iman dan Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
MISI
- Menumbuhkan penghayatan terhadap agama dan budaya bangsa sehingga menjadi sumber kearifan dalam bertindak
- Membudayakan kedisiplinan dalam pembelajaran pada semua warga sekolah
- Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif, sehingga setiap siswa dapat berkembang secara optimal sesuai dengan potensi diri
- Menumbuhkan semangat kompetitif secara aktif kepada seluruh warga sekolah
- Menerapkan management pertisipatif dengan melibatkan seluruh warga sekolah
- Membekali bekal pengembangan TI kepada siswa untuk dapat hidup mandiri di masyarakat.
Program Sekolah
Sasaran Progran Jangka Pendek [tahun pelajaran 2010-2011]
- Menyelenggarakan beberapa event baik akademik maupun non akademik yang diikuti oleh siswa SD/SMP di lingkungan Kota / Kabupaten;
- Menyelenggarakan paket pendidikan yang sesuai dengan upaya peningkatan mutu pendidikan dengan membekali life skill sesuai dengan potensi siswa;
- Peningkatan rata-rata Nilai Ujian Nasional [NUN] tahun pelajaran 2010-2011 [minimal 1,0] dari tahun sebelumnya;
- Meningkatkan Sumber Daya Manusia [ Guru dan Karyawan] dengan memperdalam wawasan tentang Kurikulum SMA Negeri 6 Madiun [KTSP] dan School Reform;
- Meningkatkan mutu pendidikan dengan mengetahui latar belakang / bakat, minat dan kemampuan siswa;
- Pengadaan buku-buku / referensi yang menunjang profesi guru sebagai pendidik maupun pengajar;
- Pengadaan sarana dan prasarana sekolah untuk dapat difungsikan oleh siswa dalam mengembangkan kemampuan dasarnya;
- Mengoptimalkan substansi dan pelaksanaan mata pelajaran tertentu sebagai wahana pendidikan budi pekerti;
- Mengoptimalkan upaya sekolah dalam mengubah kultur sekolah menjadi wahana “learning to life together” dan “learning to be”;
- Mengadakan pelatihan, diskusi dalam rangka memperdalam wawasan tentang Kurikulum SMA Negeri 6 Madiun;
- Menyelenggarakan MGMPS secara kontinu dan konsisten;
- Pemberdayaan Tim Penelitian dan Pengembangan Sekolah;
- Mengoptimalkan perpustakaan sebagai tempat untuk belajar;
- Meningkatkan kedisiplinan karyawan tata usaha sekolah sesuai dengan tugas dan wewenangnya;
- Meningkatkan layangan guru bidang studi dan BP dalam pemberian bimbingan kepada siswa sesuai permasalahannya;
- Pembenahan ruang laboratorium IPA;
- Pengadaan komputer ruang kelas untuk tahap pertama;
- Pengadaan kelengkapan sarana dan prasarana yang menunjang kegiatan ekstrakurikuler;
- Pengadaan meja kursi siswa dan guru;
- Merehab lapangan basket untuk kelancaran kegiatan ekstra kurikuler;
- Mengoptimalkan hubungan dan kerjasama dengan masyarakat, dunia usaha dan dunia industri;
- Menambah tenaga profesional yang dapat membantu dan mengembangkan life skill pada diri siswa
- Mengadakan rehab ringan untuk beberapa ruang kelas;
Fasilitas
SMA Negeri 6 Madiun berupaya untuk terus melengkapi Fasilitas yang ada di sekolah, fasilitas tersebut antara lain:
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Program Kesiswaan
|
Program Kesiswaan 2010-2011 Membudayakan kedisiplinan Semua warga sekolah SMA Negeri 6 Madiun: Untuk Siswa: Diberi kartu pelanggaran Lebih dari 2 hari tidak masuk Sekolah Orang Tua Langsung di hubungi lewat telepon / Home Visit Membudayakan 3 S ( Seyum, Sapa, Salam) yang menjadi WAURI (Wajib Ucap Setiap hari) Menyelenggarakan Ekskul Sesuai dengan keinginan Siswa meliputi Paskibraka, Cheerleader, dance, Bola Volly, Bola Basket, Futsal, KIR, Team Olimpiade IPA/IPS, Theater, Debat Contest, Karate dan Ketrampilan Komputer yang dilatih secara profesional Penyelenggaraan kepramukaan Wajib Kelas X Untuk membina Mental Agama wajib Sholat Jum”at bagi yang beragama Islam di Sekolah. Menyelenggarakan Sholat Dzuhur berjama’ah di sekolah Program Kurikulum 2011-2012 Tahun Pelajaran 2011-2012 Kelas X, XI, XII menggunakan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) Menambah Jam Intrakurikuler untuk mata pelajaran IPA dan IPS yang diujikan nasional khusus kelas X, XI,dan XII Untuk kelas XII mulai Bulan September 2010 tambahan Pengayaan Mata Pelajaran yang diujikan nasional Mulok Bahasa Jawa untuk kelas X Mulok elektro untuk kelas XI Mulok Ketrampilan Komputer untuk kelas XII |
Langganan:
Postingan (Atom)
