Sabtu, 10 Desember 2011

Pengalaman seorang dosen dalam kegagalann

* Tehnik Menghapal yang Membuat Saya Gagal
Ini hal lain yang saya temukan di film 3 Idiots, yaitu tentang gagasan ketidaksetujuan atas metode menghapal yang kerap terjadi dalam dunia pendidikan di India. Nyatanya, model seperti itu pun kerap ada di dunia pendidikan di Indonesia.

Saya sendiri termasuk satu dari sekian korban tentang keharusan memiliki kemampuan menghapal di dalam dunia pendidikan Indonesia. Hal yang saya ingat dengan sangat adalah tentang gagalnya saya masuk ke dalam jurusan IPA karena nilai saya yang sering jeblok atau pas-pasan. Semua bermuasal dari kapasitas saya yang memang tidak memiliki kemampuan bagus dalam hal menghapal rumus.

Metode menghapal memang melemahkan hasil nilai saya untuk urusan pelajaran sains. Saya yang tergila-gila dengan Fisika sejak di kelas 1 SMA, akhirnya harus kerap mendapat hadiah nilai 6 di rapot karena guru Fisika favorit saya tidak bisa mendobrak sistem pengolahan nilai. Sementara jika andai saja beliau sangat taat azas dengan urusan hanya menilai siswa dengan mengolah nilai yang ada, saya yakin, saya bisa lebih parah dari angka 6 untuk nilai Fisika yang terpajang di raport saya.

Guru Fisika yang kerap mengajak muridnya untuk berpikir secara nalar dan faktual meski berdasarkan rumus itu memang sangat tahu sekali jika saya sangat menyukai Fisika. Dalam sesi mengerjakan latihan soal, saya memang kerap mengacungkan jari untuk menjawab karena saya sudah memiliki jawaban-jawabannya dari hasil mengutak-atik yang sering saya lakukan tanpa kenal waktu saat di rumah.

Kerap hingga malam atau bahkan dini hari, saya begitu hobi mengutak atik rumus, mengombinasikan satu dengan yang lain, demi memecahkan soal cerita yang ada. Rasanya begitu mengasyikkan, seperti asyiknya bermain sebuah games.

Nyatanya, saya yang kerap bisa menjawab pertanyaan dibandingkan dengan teman-teman saya di kelas, harus menerima kekalahan di nilai angka ujian. Saya yang lemah menghapal, dan tidak mau ikut-ikutan aksi mencotek rumus saat ulangan, kerap harus menerima melihat angka 6 di raport untuk urusan nilai Fisika, mata pelajaran yang sangat saya cinta!

Hingga akhirnya ketika saya diberikan kesempatan oleh Allah untuk bisa menjadi dosen, saya manfaatkan kesempatan itu untuk tidak menekan mahasiswa saya agar mereka harus bisa karena menghapal.

“Toh nanti jika kalian kerja, apa kalian harus diminta menghapal dan tidak boleh melihat catatan tentang apa yang seharusnya? Nggak kan? Kalian diminta untuk memahami, menganalisis, bukan menghapal!” demikian yang saya tekankan.

Akhirnya ketika ujian, saya sering meminta mahasiswa saya untuk membuka buku ketika mengerjakan. Sayang, berkali-kali saya meminta mereka untuk paham dan bukan menghapal, telah begitu sulit mereka mengerti hanya karena pola menghapal yang sudah menjajah sejak mereka SD dan benar-benar telah mencengkeram otak mereka. Jawaban-jawaban ujian yang tidak ada di buku atau catatan, soal-soal yang bersifat menelaah atau analisis, tidak mereka kerjakan dengan baik hanya karena mereka merasa, “Ah, toh ujian nanti open book, jadi bisa lihat jawabannya di catatan.” Sebuah pemahaman yang salah besar!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar