Senin, 04 April 2016

Kekinian atau Kekini-kinian??

Bagi yang masih duduk di bangku sekolah, banyak siswa- siswi yang mengidam- idamkan transformasi dari bangku sekolah menuju perkuliahan. Keinginan ini muncul karena adanya dorongan dari berbagai tayangan di televisi yang menggambarkan batapa serunya kehidupan remaja saat ini. Apa lagi bagi anak SMA yang akan segera melanjutkan ke perguruan tinggi. Dari beberapa anak SMA yang ditanyai tentang bangku perkuliahan, menurut mereka bangku perkuliahan itu bahagia, santai, seru, banyak ketemu banyak temen, lebih bisa mengekspresikan diri.
Remaja di jaman modern sekarang berbeda dengan remaja jaman dulu. Mereka beruntung karena hidup dijaman yang serba mudah dan dikelilingi berbagai teknologi canggih. Mereka pun sudah tidak asing dengan laptop, i-pad, pentablet, dan smartphone. Alat- alat berteknologi canggih ini memang diciptakan untuk memudahkan aktivitas kita.
Remaja masa kini pun tak mau ketinggalan untuk menikmati manfaat yang ditawarkan oleh kecanggihan teknologi. Salah satu teknologi yang sangat dekat dan berpengaruh pada remaja saat ini adalah kehadiran smartphone. Smartphone ini dianggap dapat menunjang berbagai aktivitas di kalalangan remaja seperti melakukan interaksi sosial melalui fitur- fitur jejarig sosial seperti facebook, ask, line, whatsapp,skype, snapchat, blackberry massanger, dan lain- lain. Sehingga smartphone menjadi sebuah benda yang memiliki tingkat kebutuhan yang sangat tinggi saat ini.
Bisa dipastikan hampir semua kalangan remaja memakai smartphone saat ini. Dikalangan remaja sendiri smartphone sangat menunjang kehidupan mereka dalam mengimbangi era kekinian. Kehadiran smartphone ini juga mempengaruhi budaya kita. Jika di Indonesia memiliki budaya membaca buku, berbeda di era kekinian saat ini.
            Contohnya budaya membaca buku mulai digantikan dengan budaya membaca smartphone. Karena salah satu kecanggihan yang dimiliki smartphone ini adalah kita dapat mengakses berbagai data, entah itu jurnal atau sejenis e-book dimana pun dan kapan pun melalui smartphone. Sehingga sekarang kita tidak perlu repot- repot pergi ke toko buku dan bingung mencari- cari buku seperti apa. Cukup menggunakan google search engine dan masukan key word yang diinginkan, kita akan menemukan berbagai referensi.
Atau dalam hal lain, untuk bergibahpun sekarang lebih modern dimana kita tidak perlu melalui mulut. Bergibahpun mengikuti trend masa kini yaitu melaluli jari- jari kita. Kita tidak perlu susah payah bertemu untuk membicarakan seseorang yang sedang tidak disukai, dimana kita cukup memanfanfaatkan jejaring sosial untuk melakukan hal tersebut. Sungguh luar biasa kemajuan teknologi kita, semuanya serba instan.
Memang remaja saat ini sangat sulit untuk berpaling dari smartphone. Jika mereka tidak dapat mengontrol diri dengan baik, mereka akan melakukan hal- hal yang tidak penting. Seperti, ketika mereka berada di toilet pun mereka tak bisa lepas dari smartphone. Ketika mereka punya banyak masalah mereka mengepost cerita yang seakan- akan beban hidup atau nyawanya sedang berada di ujung tanduk. Berdoa dengan mengepostingnya di sosial media yang seakan- akan fitur- fitur sosial media ini akan menolong mereka.  
Dalam Media Ecology Association (2005) menyatakan definisi ekologi media dari Lance Strate sebagai “kajian mengenai lingkungan media, ide bahwa teknologi dan teknik, mode (cara penyampaian) informasi dan kode komnikasi memainkan peran utama dalam kehidupan manusia” (Richard West dan Lynn H. Turner, 2008: 139). Teori ini menjelaskan kehidupan yang sedang dialami remaja kita saat ini. Dimana smartphone menjadi kebutuhan dan keharusan untuk memenuhi era kekinian. Jadi tidak heran bahwa remaja saat ini begitu terikat pada smartphone mereka sekaligus menjadi “pecandu teknologi”.
Dalam menghadapi era kekinian, kita tidak boleh begitu saja mengikuti arus yang sedang trend saat ini. Kita harus tau apa yang mendasari kebutuhan untuk dipenuhi. Kita juga harus paham dengan apa yang saat ini kita ikuti. Diharapkan dengan kamjuan teknologi kekinian benar- benar bisa bermanfaat untuk menunjang kehidupan sehari- hari.
Sebagai remaja  modern saat ini, mau tidak mau remaja masa kini akan dicekoki oleh berbagai macam penawaran smartphone yang semakin canggih. Mungkin beberapa remaja yang melek teknologi ini akan menggunakan kemajuan dan kecanggihan smartphone untuk menunjang kehidupan mereka. Mereka tau bagaimana memperlakukan fitur-fitur smartphone semaksimal mungkin untuk menunjang aktivitas mereka. Mereka tau apa yang mereka butuhkan ketika memiliki smartphone itu, sehingga mereka tidak semata- mata memilikinya hanya untuk mengikuti trend saja.
Seiring perkembangan dijaman modern seperti remaja memang tidak mau dikatakan sebagai anak cupu, primitif, dan ketinggalan jaman. Akhirnya mereka berlomba- lomba untuk memiliki smartpone yang canggih serta memiliki fitur- fitur gratis, lucu, menarik, dan juga fitur yang dinilai jika dimiliki bisa dikatakan menjadi anak gaul atau kekinia. Hal ini sangat disayangkan.
Teknologi ini diciptakan untuk memudahkan kehidupan sehari- hari bukan untuk pamer atau bergaya tidak jelas. Hanya untuk dikatakan sebagai anak gaul atau kekinian, mereka bersedia mengeluarkan banyak uang untuk membeli smartphone tanpa mengeteahui kebetuhan apa saja yang mereka perlukan ketika memiliki smartphone tersebut. Bagi mereka cukup memilikinya sama artinya dengan sudah menjadi kekinian. Padahal bukan itu yang dimaksud dengan gaya hidup kekinian.
Gaya hidup kekinian adalah seorang yang mampu mengetahui dan menguasai apa yang sedang mereka gunakan. Berbeda dengan kekini-kinian yang hanya sekedar ikut- ikut tanpa tau manfaat sebenarnarnya. Yang saat ini banyak digunakan dikalangan remajan adalah smartphone, anak kekini- kinian yang memiliki smartphone akan mempergunakan smartphone dengan fungsi yang seminim- minimnya. Seperti telpon, sms, chating, update status dan selebihnya digunakan untuk hal- hal yang tidak jelas. Sebaliknya bagi anak kekinian smartphone akan menunjang aktivitas meraka dan menjadi partner yang baik dalam kehidupan.

Tips untuk menjadi kekinian   :

1.      Pikirkan matang- matang apa yang anda perlukan ketika ingin membeli smartphone.
2.      Carilah beberapa spesifikasi smartphone yang mendukung keperluan anda.
3.      Lihatlah kemampuan anda dalam membeli smartphone.
4.      Setelah anda mengetahui kemampuan daya beli anda, cobalah mencari spesifikasi sesuai yang anda butuhkan dan sesuai budget.
5.      Cobalah meminta saran kepada orang lain yang paham tentang smartphone agar anda mendapat gambaran dan saran yang baik.

Tips untuk menghidari kekini- kinian
1.      Jangan terlena dengan brend yang sedang trend di pasaran.
2.      Melek teknologi, mengetahui fungsi smartphone secara luas.
3.      Jangan hanya sekedar ikut- ikutan karena sedang trendnya.
4.      Pilah apa saja yang dibutuhkan.
5.      Carilah pergaulan yang tepat, sehingga anda tidak terlena dengan kekinian.
Tidak perlu selalu mengikuti trend yang sedang naik daun untuk menjadi kekinian.

Jadikanlah smartphone sebagai partner anda sehingga kita tidak semata- mata dibutakan oleh teknologi ini. Kuasai apa yang ada didalamnya sehingga kita tidak rugi dalam memilikinya. Jangan sampai kita dijadikan budak dan menjadi pecandu teknologi tanpa ada manfaat untuk kemajuan diri kita.

Senin, 27 April 2015

Menganalisis sebuah iklan

                                      

 sumber : http://bintangiklan.wordpress.com/2010/11/24/sikat-gigi-malam-bersama-ayah-adi-dan-dhika/

                          Saya akan membahas sebuah iklan produk pasta gigi yaitu " pepsodent ". Produk ini merupakan produk yang sangat familiar bagi masyarakat indonesia bahkan mainset masyarakat terhadap pasta gigi sudah berubah menjadi pepsodent karna banyak yang mengatakan bahwa pasta gigi itu pepsodent.
                       
                          Dari konsep iklan ini menggunakan dua tokoh yaitu ayah adi dan dika serta sikat gigi pagi + malam . Iklan tersebut menurut saya sangat sangat kreatif memilih 2 tokoh tersebut, karna iklan tersebut dapat menajak anak-anak khusunya untuk menggosok gigi setiap pagi dan malam. Menurut saya iklan ini unik dan mendidik karna juga memberi contoh tidak hanya sekedar menjual.

                          Dari segi komunikatif menurut saya iklan tersebut sangat komunikatif karna melihatkan kepada para konsumen bahwa menyikat gigi itu menyenangkan dan mengajarkan kepada anak-anak untuk menggosok gigi pada siang dan malam hari . iklan tersebut juga mengajak keluarga konsumen untuk menggosok gigi .

                           untuk segi eksekusinya menurut saya iklan yang sebagai billboard ini sudah menggambaarkan keceriaan antara keluarga khusunya untuk ayah dan anak, dan menunjukan ayah dan anak sedang menggosok gigi. sedangkan desainnya juga menarik ceria, sehingga membuat masyarakat untuk melihat billboard tersebut

Selasa, 24 Februari 2015

Melepas Semua Topeng- topeng ini

Mungkin sebagian besar orang mengenal ku sebagai orang yang berbeda, asyik, ngga terduga- duga. :), cukup senang aku meninggalkan kesan seperti itu. Mellihat tawa mereka, kebahagiaan mereka.. itu sangat berharga bagiku.

Tapi tak sedikit pula yang mengenalku, pendiam, tak mudah berbaur, kaku, membosankan. hahahaa.. entah lah.. aku ini apa.. mau ku apa.. enaknya bagaimana.. aku tak tau.. :)

Banyak topeng yang ku pasang. Aku tak mengerti, kenapa aku seperti ini. Aku ingin masuk di dalam kehidupan orang, berbaur, menjadikan saksi kebahagiaan mereka, menjadi sandaran kesedihan mereka. Tapi, banyak momen yang bahkan aku meras takut pada mereka. Takut mengganggu kebahagiaan mereka, tawa mereka.

Sugesti yang ku tanamkan dalam diri ku. Sugesti sampah yang terus aku simpan rapi. haahahaa... Lebih bodohnya, aku tau penyebab semua ini, tapi bertahun- tahun aku tak bisa menanganinya..

BODOH!! BODOHHHH!!

Aku ingin melepas topeng- topeg kecil ini. Aku tak ingin menyimpannya, aku ingin membuangnya, menguburnya, bahkan memusnahkannya..
Tapi ternyata tak semudah apa yang ku tulis....

Rabu, 17 Desember 2014

Love It

Memperlakukan ku begitu istimewa..
Masih sama, aku menykai matanya.
Tapi sayang, pada akhirnya aku menyukai SEMUA yang ADA PADA DIRINYA..
Aku sangat menyukai sentuhan lembut ketika ia menarik tangan ku dan menggegamnya..
Aku sangat menyukai itu..
Tak perlu berlebihan untuk membuat kunyaman..

Aku suka, setiap gesekan tanganya di kepala ku
Serasa ingin memanjakan diri dengan sentuhan itu..

Bagi ku semua tak ada yang berubah..
Perasaan sama
Hanya status..

Yang sangat ku harapkan, perubahan status tidak merubah segala..
But may be, it's imposible..

Dia sangat meratukan seseorang yang di sampingnya :)
Mungkin pertemanan bukan arti yang baik untuknya..

Tapi aku memang mengharapkan, aku bisa memulai dengan pertemanan baik..

Teruntuknya, Allah...

Sampaikan bisikan lirih ini...
Aku SAYANG DIA
Sampaikan bisikan lirih ini...
Aku CINTA DIA
Sampaikan bisikan lirih ini...
Aku MERINDUKAN SEMUA TENTANG DI

Ya Allah, Engkau maha tau..
Seberapa dalamnya aku hanyut dalam pusarannya..
Seberapa tenaga ku untuk menekan kerintihan, agar merubah semua ini..

Dia perhatian, dia romntis, dia peka, dia mengerti...
Dia yang berbicara masa depan pada ku...
Dia yang menggapai tangan ku, "Kamu Istri ku"
Dia yang penuh keyakinan, dia yang memperjuangkan

Aku tak mengerti, sakit ku bisa menjadi kerinduan..
Aku tak mengerti, tangis ku bisa menjadi ketakutan kehilangan dia
Aku tak mengerti, kehancurank ku bisa menjadi cinta yang lebih besar

Kejujuran yang tak pernah terpahami...
Aku mencintai Dia atas LILLAI TA'ALLA...
Kejujuran yang tak pernah terpahami...
Aku memang jatuh cinta padanya...
Kejujuran yang tak pernah terpahami...
Aku sangat mencintai dia..

Ku buka cendela kamar ku, agar hiruk pikuk dunia luar menyapa ku n menertawai ku...
Pukul 4.00, ku lirik arloji ku...
Ku tengok cendela yang menghanyutkan ku dalam kenangan kepastian bersamanya...
Ku tengok cendela yang membiarkan ku bahagia bersama ingatan yang menarik...

Sang Pujaan ku, Gembul...


Rabu, 03 Desember 2014

Antropologi

“KESATUAN HIDUP LOKAL TRADISIONAL”

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Wilayah merupakan syarat mutlak untuk kesatuan hidup suatu komunitas atau kumpulan dari berbagai individu untuk membentuk kesatuan hidup. Orang yang tinggal bersama disuatu wilayah belum tentu merupakan satu kesatuan hidup apabila mereka tidak merasa terikat oleh rasa bangga dan cinta kepada wilayahnya. Sebagai suatu kesatuan manusia komunitas tentu saja memiliki rasa kesatuan seperti yang dimiliki hampir semua kesatuan manusia lainnya, namun perasaan dalam komunitas biasanya sangat tinggi sehingga ada rasa kepribadian kelompok, yaitu perasaan bahwa kelompoknya memiliki ciri-ciri kebudayaan atau cara hidup yang berbeda dari kelompok lainnya.
1.2 Masalah dan Sub-Masalah
Adapun masalah yang dibahas pada pembahasan di Bab 3 adalah didalam kesatuan masyarakat kecil sering kali terdapat individu yang menganggap bahwa tolong-menolong dalam masyarakat local tradisional atau kelompok masyarakat kecil terdorong karena spontanitas. Adapun sub-masalah yang kami paparkan adalah sebagai berikut:
·         Apa saja  bentuk komunitas kecil ?
·         Bagaimana bentuk solidaritas dalam masyarakat kecil
·         Bagaimana bentuk pelapisan social
·         Bagaimana sistem pimpinan masyarakat dalam masyarakat kecil
·         Sistem pengendalian social.
1.3 Tujuan
            Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas diskusi dari mata kuliah pengantar Antropologi dan untuk mengetahui kesatuan hidup local yang ada pada masyarakat tradisional.

1.4 Manfaat
Dengan penulisan makalah yang berjudul “ kesatuan hidup local tradisional” diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
·         Manfaat teoritis
Dengan penulisan makalah ini kami dapat memperluas pengetahuan mengenai permasalahan kesatuan hidup local tradisional yang ada pada suatu wilayah dan lebih khususnya adalah materi pembelajaran mata kuliah pengantar antropologi.
·         Manfaat praktis
Setelah mengkaji permasalahan yang ada pada kesatuan hidup local tradisional kami dapat memberikan solusi agar permasalahan itu tidak ditemukan dimasa yang akan datang.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Kesatuan hidup local tradisional
Kesatuan hidup local tradisional berbeda dengan kelompok kekerabatan, kesatuan hidup social ini tidaklah semata-mata berdasarkan ikatan kekerabatan tetapi lebih didasarkan tempat tinggal (wilayah). Sebagai suatu kesatuan manusia komunitas tentu saja mempunyai rasa kesatuan seperti yang dimiliki semua kesatuan manusia lainnya. Bentuk dari komunitas ada bermacam-macam, ada yang besar seperti kota tetapi ada juga komunitas kecil yaitu desa, Rt dan sebagainya. Komunitas kecil selain memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
·         Para warganya saling mengenal dan bergaul secara intensif,
·         Karena kecil maka setiap bagian yang ada didalamnya tidak terlalu berbeda antar yang satu dan yang lainnya.
·         Para warganya dapat menghayati berbagai lapangan kehidupan mereka dengan baik.
(Koentjaraningrat,2005:144)

“different local or community premises kinship group. As a union man, a community that would also have similar feelings of unity with almost all other human unity, but unity in the community very hard so a sense of unity was a sentiment of unity.”



BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Bentuk-bentuk Komunitas Kecil
Bentuk-bentuk komunitas kecil ada dua yaitu kelompok berburu dan kelompok desa.
·         Kelompok berburu
Kelompok berburu yaitu kelompok yang bermata pencahariaan sebagai pemburu dan peramu, dan berpindah-pindah tempat dalam batas suatu wilayah tertentu. Kelompok ini biasanya terdiri dari 80 sampai 100 jiwa, biasanya jumlah itu tidak mutlak. Dalam musim berburu kelompok-kelompok kecil seperti itu berpindah-pindah dari suatu tempat ke tempat lain untuk memburu dan meramu tumbuhan-tumbuhan liar.
·         Kelompok Desa
Sebagian besar desa-desa di Indonesia merupakan kelompok-kelompok perkampungan tetap yang dihuni sepanjang tahun. Terutama didaerah-daerah pertanian menetap, desa adalah pusat kehidupan para petani. Di daerah pegunungan, desa sering kali berlokasi di lembah-lembah (yang sebenarnya merupakan daerah aliran sungai) atau di tepi danau.
3.2 Solidaritas dalam Masyakat Kecil
Dalam komunitas kecil, system gotong royong (bantu-membantu) dalam menyelesaikan pekerjaan sering kali menimbulkan salah paham karena sering kali system gotong royong itu dianggap oleh sebagian kecil dari masing-masing individu hanya karena keinginan spontan untuk berbakti pada sesama warga. Akan tetapi kenyataannya tidak demikian, menurut penelitian para ahli antropologi social dan sosiologi menunjukkan bahwa system tolong-menolong itu didasari karena rasa saling membutuhkan.
Sistem gotong royong yang menjadi ciri khas diderah pedesaan semakin lama dirasakan semakin hilang karena didalam kehidupan modern banyak anggota masyarakat menganggap bahwa masyarakat madani adalah masyarakat yang maju dalam peradaban sehingga mengabaikan system gotong royong.
3.3 Sistem Pelapisan Social
Dalam hampir masyarakat didunia baik yang sangat sederhana maupun yang sangat kompleks, ada perbedaan dalam hal kedudukan dan status social. Perbedaan dalam hal inilah yang menjadi dasar dari gejala pelapisan social. Sebab-sebab terjadinya pelapisan social adalah sebagai berikut:
·         Kualitas serta keahlian
·         Senioritas
·         Hubungan kekerabatan
·         Pengaruh dan kekusaan
·         Pangkat
·         Kekayaan
3.4 Pimpinan masyarakat
Pimpinan dalam suatu masyarakat dapat berupa kedudukan social. Seorang pemimpin harus dapat membangkitkan masyarakat atau kesatuan-kesatuan social khusus dalam masyarakat untuk melakukan berbagai kegiatan social.                                  
3.5 Sistem-sistem Pengendalian Social
Kehidupan suatu masyarakat secara garis besar mematuhi seperangkat tata tertib atau yang sering kali disebut adat istiadat dalam kenyataan adalah cita-cita, norma, pendirian, keyakinan. Sikap, peraturan, hukum dan undang-undang yang mendorong tingkah laku manusia. Adat istiadat dalam suatu masyarakat dipahami warganya dengan cara belajar yang dimulai sejak lahir hingga akhir hayat mereka.
Cara pengendalian social yang dilakukan untuk mengendalikan ketegangan-ketegangan social yaitu:
·         Mempertebal keyakinan akan kebaikan dan manfaat dari istiadat
·          Memberi ganjaran kepada warga masyarakat yang taat pada adt istiadat
·         Mengembangkan rasa malu untuk menyeleweng dari adat istiadat
·         Mengembangkan rasa takut untuk menyeleweng dari adat istiadat karena adanya ancaman.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Didalam masyarakat pedesaan atau lebih khususnya di dalam masyarakat komunitas kecil tolong menolong merupakan suatu hal yang sangat menonjol, akan tetapi system tolong menolong atau gotong royong ini sering disalah pahami karena sebagaian orang sering menganggap bahwa tolong menolong hanya karena mereka terdorong oleh keinginan spontan untuk berbakti kepada sesama warga, akan tetapi menurut para ahli antropologi social dan sosiologi menunjukan bahwa  saling tolong menolong itu didasari rasa saling membutuhkan.
4.2 Saran
            Agar kesatuan lokal tradisional dalam masyarakat tetap terjalin,masyarakat harus tetap melestarikan aspek-aspek yang merupakan menjadi ciri-ciri dari kesatuan hidup lokal tradisional tersebut. misalnya gotong –royong dalam melakukan sesuatu. Tetapi dalam hal hal ini sebaiknya masyarakat tidak menutup diri untuk berinteraksi dengan masyarakat yang berada diluar daerah tersebut agar masyarakat yang hidup dalam kesatuan hidup lokal tradisional tidak ketinggalan dalam perubahan sosial.

DAFTAR PUSTAKA
Koenijaraningrat.(1993). Kebudayaan,mentalis dan Pembangunan,xvi. 
Jakarta : PT Gramedia Pustaka utama.



by http://arismanpuput.blogspot.com/2013/07/antropologi.html

Kesatuan Hidup Budaya Lokal Tradisional

BAB VIII
KESATUAN HIDUP LOKAL TRADISIONAL

1.      PEMBATASAN KONSEP
Kesatuan Hidup Setempat. Secara nyata, kesatuan hidup setempat selalu menempati suatu wilayah khusus. Apabila sebagian besar warganya mulai memencar ke berbagai tempat lain, maka ikatan yang utama dari kesatuan itu hilang. Orang yang tinggal bersama di suatu wilayah belum tentu merupakan suatu kesatuan hidup apabila mereka tidak merasa terikat oleh rasa bangga dan cinta kepada wilayahnya, sehingga ia tidak rindu untuk kembali ke sana apabila ia berada di tempat lain. Dalam buku-buku ajar sosiologi, kesatuan hidup setempat disebut community.
Sebagai suatu kesatuan manusia, komunitas tentu saja mempunyai rasa kesatuan seperti yang dimiliki hampir semua kesatuan manusia lainnya, namun perasaan kesatuan dalam komunitas itu biasanya sangat tinggi, sehingga ada rasa kepribadian kelompok, yaitu perasaan bahwa kelompoknya itu memiliki ciri-ciri kebudayaan atau cara hidup yang berbeda dari kelompok lainnya. Tetapi di samping itu seringkali ada juga perasaan negatif yang merendahkan atau menganggap aneh ciri-ciri yang ada dalam komunitas lain.
Sifat dari suatu komunitas adalah adanya wilayah dan cinta pada wilayah serta kepribadian kelompok itu merupakan dasar dari perasaan patriotism, nasionalisme, dll. Suatu negara memang dapat juga merupakan komunitas, apabila cinta tanah air dan rasa kepribadian bangsa itu besar.
Bentuk dari komunitas ada bermacam-macam; ada yang besar seperti misalnya kota, negara bagian, negara, tetapi ada pula komunitas-komunitas kecil yaitu band, desa, RT, dll.
Komunitas Kecil. Selain memiliki ciri-ciri komunitas pada umumnya (yaitu adanya wilayah, cinta pada wilayah dan kepribadian kelompok), komunitas kecil memiliki sifat-sifat tambahan yaitu :
a.       Para warganya masih saling mengenal dan saling bergaul secara intensif;
b.      Karena kecil, maka setiap bagian dan kelompok khusus ada yang di dalamnya tidak terlalu berbeda antara yang satu dengan yang lainnya;
c.       Para warganya dapat menghayati berbagai lapangan kehidupan mereka dengan baik.
Selama manusia hidup di muka bumi ini sejak kurang lebih 2 juta tahun yang lalu, sebagian besar dari waktu itu manusia hidup dalam masyarakat-masyarakat berbentuk komunitas kecil. Komunitas kecil dalam zaman prasejarah berupa kelompok-kelompok pemburu.
Komunitas-komunitas kecil pada umumnya ada di daerah pedesaan. Di setiap negara pasti ada daerah perkotaan dan daerah pedesaan. Di setiap negara pasti ada daerha perkotaan  dan daerah pedesaan, tetapi ada negara-negara yang lebih luas daerah pedesaannya, dan ada negara-negara yang lebih kecil daerah pedesaannya. Di Eropa Barat dan Amerika Serikat jumlah penduduk yang tinggal di daerah pedesaan lebih kecil daripada penduduk yang tinggal di kota. Sebaliknya di negara-negara Eropa Utara, Eropa Timur dan hampir semua negara di Asia, Afrika Tengah dan Selatan, jumlah penduduk pedesaan lebih besar. Di Indonesia, menurut sensus 1961, sebanyak 85,4% dari seluruh jumlah penduduknya adalah penduduk pedesaan.
Terutama bagi bangsa-bangsa dengan penduduk pedesaan yang besar, pengetahuan tentang komunitas kecil sangat penting, karena gejala dan masalah-masalah sosial yang terjadi di tingkat nasional tidak terlepas dari gejala-gejala dan masalah-masalah sosial yang terjadi di tingkat nasional tidak terlepas dari gejala-gejala dan masalah-masalah yang terjadi dalam komunitas kecil (yaitu desa-desa).

2.      BENTUK-BENTUK KOMUNITAS KECIL
Komunitas-komunitas kecil yang akan diuraikan (1) kelompok berburu (band), yang bermata pencaharian sebagai pemburu dan peramu, dan berpindah-pindah tempat di dalam batas suatu wilayah tertentu, dan (2) desa, yaitu kelompok kecil yang hidup menetap di suatu wilayah.
Band. Kelompok berburu biasanya terdiri dari kurang lebih 80-100 jiwa dan banyak yang bahkan lebih sedikit jumlah anggotanya. Dalam musim berburu, kelompok kecil seperti itu berpindah-pindah dari suatu tempat ke tempat lain untuk memburu hewan dan meramu tumbuhan liar. Pada malam hari mereka mendidrikan kemah atau tidur dalam gubuk-gubuk darurat yang mereka bangun dengan bahan-bahan yang mereka peroleh di sekitar mereka. Kelompok berburu hanya berburu dalam batas-batas suatu wilayah yang telah di tentukan. Kelompok itu mengetahui secara rinci semua cirri-ciri dari wilayah mereka, termasuk jenuis flora dan faunanya. Wilayah perburuan biasanya dipertahankan sekuat tenaga terhadap serangan-serangan kelompok-kelompok lain.
Dalam musim berburu, suatu band biasanya terpecah ke dalam kelompok-kelompok kecil, yang saling  memencar, sehingga pada saat-saat seperti itu desa-desa induk mereka tampak sunyi dan hamper tak berpenghuni. Namun pada waktu tidak ada kegiatan berburu, semua kelompok berkumpul kembali di desa-desa induk masing-masing. Pada waktu mereka berkumpul mereka mengadakan berbagai kesibukan dalam kehidupan sosial mereka, dengan mengadakan pesta-pesta, upacara-upacara keagamaan,dll.
Setiap musim berburu, suatu kelompok berburu biasanya pindah ke lokasi berburu yang berbeda, yang sesuai dengan suatu pola yang agak tetap. Namun ada kalanya mereka terpaksa mengubah arahnya karena berbagai sebab, misalnya berkurangnya hewan buruan di wilayah adat mereka. Dalam jangka waktu lama perjalanan kelompok-kelompok berburu seringkali dapat mencapai daerah-daerah uyang jauh letaknya. Penggalian-penggalian yang dilakukan para ahli prasejarah menunjukkan bahwa dari bekas-bekas alat kelompok-kelompok suku bangsa pemburu di zaman prasejarah diketahui bahwa mereka telah menempuh jarak yang sangat besar dalam suatu jangka waktu beribu-ribu tahun dan bahkan telah melintasi suatu benua. Kelompok-kelompok berburu yang menurunkan suku-suku bangsa Indian di Amerika Utara dan Amerika Selatan konon berasal dari bagian timur-laut Benua Asia, yang sekitar 25.000 tahun yang lalu menyeberangi Selat Bering, dan kemudian menyebar di seluruh Benua Amerika selama sekitar 17.000 tahun. Pola-pola kehidupan kelompok-kelompok berburu diuraikan oleh B.Spencer dan J.F.Gillin dalam buku mereka mengenai suku bangsa Arunta di Australia.
Suku-suku bangsa pemburu yang hidup dengan pola seperti tersebut, di abad 20 ini tidak banyak di jumpai lagi, dan sisa-sisanya yang masih ada adalah; kelompok-kelompok kecil suku bangsa Pygmee di pedalaman Togo, Kamerun dan Kongo, dan kelompok-kelompok Bushman di daerah Gurun Kalahari di Afrika Selatan. Di Asia kelompok-kelompok semacam itu hanya ada di beberapa daerah di Asia Tenggara (misalnya di pedalaman Malaysia) dan Siberia Timur-laut. Demikian juga di Australia masih ada beberapa kelompok di pedalaman Queensaland dan New South Wales. Di Indonesia (termasuk Irian Jaya) kelompok-kelompok pemburu dan peramu itu juga sudah hamper tidak ada lagi, kecuali di daerah pedalaman Sumtra Timur (misalnya orang Sakai,Kubu, dll), dan di Pedalaman Kalimantan (orang Punan). Di Irian Jaya hampir semua suku bangsa telah bercocoktanam.
Selain kelompok kelompok pemburu di daerah tersebut, suku-suku bangsa yang hidup sebagai peternak juga hidup dalam kelompok kelompok  dengan cirri-ciri komuniti kecil yang dapat disebut band pula. Dalam musim-musim tertentu kelompok-kelompok ternak bersama sekuruh keluarga mereka menggembalakan terrnak mereka ke padang-padang rumput. Pada malam hari mereka membangun kemah atau tadah angin sederhana, yang mereka bawa ke mana pun mereka pergi. Arah gerak penggembaraan itu mengikuti pola yang tetap dalam batas-batas suatu wilayah yang juga mereka pertahankan dengan gigih terhadap serangan kelompok-kelompok lain. Oleh sebab terjadi perubahan-perubahan arah serupa itu, pola perpindahan kelompok peternak itu seakan-akan lebih cepat menyebar dan meliputi wilyanh yang lebih luas daripada perpindahan pada suku-suku bangsa pemburu.
Suku-suku bangsa peternak pada umumnya mempunyai sifat yang agresif, karena mereka seringkali harus menghadapi pencurian-pencurian hewan ternak mereka oleh kelompok-kelompok ternak lain, dan karena mereka juga sering harus berperang melawan kelompok-kelompok lain untuk memperebutkan suatu wilyah penggembalaan yang baik. Dalam sejarah kebudayaan umat manusia suku bangsa peternak memang sering bersifat agresif, seperti kelompok-kelompok peternak Mongol-Tartar di Asia Tengah, yang dalam abad ke-12 dan ke-13 berperang hingga mencapai Kiev di daerah Sungai Jnepr di Rusia, yang mereka duduiki dalam tahun 1240. Begitu juga kelompok-kelompok peternak Arab Badawi, yang dalam abad 7 hingga abad ke-11 menguasai sebagian besar Benua Asia Barat daya dan sebagian besar Afrika Utara.
Ahli antropologi E.E. Evand Pritchard telah membuat suatu deskripsi yang rinci mengenai kehidupan kelompok penggembala ternak Niger yang tinggal di daerha hulu Sungai Nil di Sudan Selatan. Penelitian mengenai pola-pola gerak perpindahan menurut musim dan perubahan gerak perpindahan kelompok-kelompok Fula di daerah dataran tinggi Yos di Nigeria Utara, telah di teliti dan di deskripsi dengan baik oleh D.J. Stenning.
Suku-suku bangsa peternak yang hidup dalam komunitas kecil sekarang masih ada di negra Rusia, khususnya di Siberia Timur Laut, Siberia Tengah (daerah Sungai Lena dan Yensei, maupun di negara Kazakh dan Kirghiz). Di Indonesia tidak ada suku-suku bangsa yang hidup dalam kelompok-kelompok kecil yang menggembalakan ternak secara besar-besaran.
Desa. Desa adalah wilyah yang di huni oleh suatu komunitas kecil secara tetap. Suku-suku bangsa penghuni desa umumnya bermatapencaharian bercocoktanam atau menangkap ikan. Berdasrkan pola perkampungannya, ada beberapa tipe desa.
Dalam masyarakat suku-suku bangsa peladang, desa biasanya tidak dihuni sepanjang masa, karena para peladang umumnya turut pindah bersama dengan ladangnya, terutama apabila jarak anatara desa dan ladang mereka menjadi terlalu besar. Sebabnya adalah karena setiapkeluarga inti membangun rumahnya di tegah lading mereka. Setiap 3 atau 4 tahun sekali mereka turut pindah dengan berpindahnya ladang mereka.
Dibandingkan dengan pola perkampungan desa-desa orang Subanun, di Indonesia desa-desa lebih mengelompok padat. Desa-desa di Indonesia seperti ini jarang turut pindah dengan lading; dan makin besar desanya, makin tetaplah sifatnya. Desa-desa suku bangsa Iban di Kalimantan Barat, misalnya terdiri dari sebanyak kurang lebih 150 jiwa. Peladang-peladang yang ladangnya terlalu jauh jaraknya dari desa, biasanya membangun gubuk sementara di tengah ladang mereka. Namun gubuk-gubuk yang semula dimaksudkan sebagai tempat hunian sementara, seringkali merupakan awal dari suatu desa baru yang masih menjadi bagian desa induk, tetapi yang lambat laun melepaskan diri dan berdiri sendiri. Proses perpisahan seperti itu tidak hanya terjadi pada desa-desa orang Iban, tetapi juga di desa-desa peladang lain di dunia.
Ahli antropologi W.C. Bennett dan R.M. Zing telah membuat deskripsi mengenai komunitas kecil serupa itu di desa-desa suku bangsa Indian Tarahumara di Meksiko Barat. Pola kehidupan dalam desa-desa suku bangsa Tarahumara juga ada di Indonesia, yaitu desa-desa orang Toraja di daerah pegunungan Sulawesi Tengah, yang biasanya sepi selama musim bercocok tanam, tetapi penuh dan ramai selama masa panen.
Sebagian besar desa-desa di Indonesia merupakan kelompok-kelompok perkampungan tetap yang dihuni sepanjang tahun. Terutama di daerah-daerah dengan pertanian menetap, desa adalah pusat kehidupan para petani.
Didaerah pegunungan, desa seringkali berlokasi di lembah-lembah atau di tepi danau. Suku-suku bangsa yang tinggal di daerah pedalaman sekitar Palembang, di daerah pedalaman Kalimantan, Sulawesi Tengah atau pulau-pulau lain di Indonesia, dapat dialokasikan menurut lembah, sungai, dan danau-danau yang ada di suatu daerah.

by http://elysabethervinaqueen.blogspot.com/2012/06/kesatuan-hidup-budaya-lokal-tradisional.html